Sunday, 29 December 2019

Audit Teknologi Sistem Informasi

MAKALAH
AUDIT TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI

Hasil gambar untuk universitas gunadarma

4KA07

PENULIS
Arya Zulfikar Tetuko (11116125)







UNIVERSITAS GUNADARMA
ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI
SISTEM INFORMASI

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah S.W.T. karena berkat rahmat, karunia, taufik dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. makalah ini dimaksudkan guna melengkapi salah satu tugas pada jurusan Sistem Informasi, Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi, Universitas Gunadarma. Penulis memberi penulisan makalah ini judul “AUDIT TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI”.
Makalah ini tidak mungkin dapat terwujud tanpa adanya bantuan yang sangat berarti dan berkesan dari teman – teman  yang telah memberikan arahan dan ilmu serta waktu luangnya untuk membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini serta dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada kerabat yang telah membantu.

Depok, 29 Desember 2019


Penulis

DAFTAR ISI

COVER ........................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1
            1.1 Latar Belakang ............................................................................... 1
            1.2 Tujuan Penulisan ........................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................... 2
            2.1 Definisi Audit Teknologi Sistem Informasi .................................. 2
            2.2 Jenis – jenis Audit dan Ruang Lingkup Audit Teknologi
                  Sistem Informasi ............................................................................ 2
            2.3 Jenis – jenis Kontrol dan Audit Teknologi Sistem Informasi......... 4
BAB III PENUTUP .............................................................................. ......... 7
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... ......... 8

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 
            Seiring dengan perkembangan zaman banyak perusahan yang mengandalkan sistem informasi sebagai pendukung jalannya operasional perusahaan. untuk mendukung pencapaian visi dan misi perusahaan, maka  pengolaan informasi sangat dibutuhkan untuk tercapainya visi dan misi pada suatu perusahaan tersebut.
            Semakin berkembangnya teknologi informasi akan semakin banyak ancaman-ancaman yang akan terjadi dari dalam maupun luar perusahaan. Misalnya pada pemrosesan komputer.  Akan sangat mengkhawatirkan bila terjadi kesalahan dalam pemrosesan di dalam komputer. Kerugian mulai dari tidak dipercayainya perhitungan matematis sampai kepada ketergantungan kehidupan manusia.
            Untuk mencegah ancaman-ancaman tersebut perusahaan membuat pengendalian-pengendalian internal dan untuk memeriksa pengendalain tersebut telah mencapai tujuan atau belum, maka diperlukanlah audit sistem informasi dalam suatu perusahaan atau organisasi.

1.2 Tujuan Penulisan
            1. Mengetahui definisi audit teknologi sistem informasi. 
            2. Mengetahui jenis – jenis audit dan ruang lingkup audit teknologi sistem informasi.
            3. Mengetahui jenis – jenis kontrol dan audit teknologi informasi. 

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Audit Teknologi Sistem Informasi 
            Audit teknologi informasi atau information systems (IS) audit adalah bentuk pengawasan dan pengendalian dari infrastruktur teknologi informasi secara menyeluruh. Audit teknologi informasi ini dapat berjalan bersama-sama dengan audit finansial dan audit internal, atau dengan kegiatan pengawasan dan evaluasi lain yang sejenis. Pada mulanya istilah ini dikenal dengan audit pemrosesan data elektronik, dan sekarang audit teknologi informasi secara umum merupakan proses pengumpulan dan evaluasi dari semua kegiatan sistem informasi dalam perusahaan itu. Istilah lain dari audit teknologi informasi adalah audit komputer yang banyak dipakai untuk menentukan apakah aset sistem informasi perusahaan itu telah bekerja secara efektif, dan integratif dalam mencapai target organisasinya.
            Audit atau pemeriksaan dalam arti luas adalah evaluasi terhadap suatu organisasi, sistem, proses atau bahkan produk. Audit dilaksanakan oleh auditor yaitu pihak yang objektif, kompeten, serta tidak memihak. Hal ini bertujuan untuk melakukan verifikasi subjek dari audit  telah diselesaikan  atau sudah berjalan sesuai dengan standar, regulasi, dan praktik yang telah disetujui dan di terima.
            Standar yang digunakan dalam mengaudit sistem informasi adalah standar yang diterbitkan oleh ISACA yaitu ISACA IS Auditing Standard. Selain itu ISACA juga menerbitkan IS Auditing Guidance dan IS Auditing Procedure.

2.2 Jenis – jenis Audit dan Ruang Lingkup Audit Teknologi Sistem Informasi
Audit internal 
Audit internal sebagai kemampuan organisasi. Praktik audit TI eksternal dan internal bergantung pada prosedur yang ditetapkan secara formal yang dilaksanakan oleh auditor yang cakap dengan pengetahuan organisasi dan keahlian domain yang cukup untuk secara efektif melaksanakan berbagai jenis audit yang dibutuhkan organisasi. Perbedaan struktural utama sehubungan dengan audit internal adalah perlunya komponen atau fungsi organisasi — biasanya disebut program audit internal — yang bertanggung jawab untuk melakukan audit di dalam organisasi. Bergantung pada ukuran dan struktur manajemen organisasi, industri di mana ia berpartisipasi, dan faktor-faktor seperti apakah organisasi diperdagangkan secara publik, program audit internal mungkin merupakan unit besar dalam organisasi dengan sumber daya yang didedikasikan hanya untuk audit atau mungkin menjadi kemampuan fungsional yang menarik sumber daya sesuai kebutuhan dari banyak bagian organisasi. 
Terlepas dari fitur struktural tertentu atau jumlah staf atau sumber daya lain yang terkait dengannya, program audit internal membutuhkan otoritas yang tepat untuk melakukan audit, strategi audit atau rencana untuk memandu manajemen dan operasi program, dan personel yang memenuhi syarat untuk melakukan jangkauan penuh audit yang berlaku untuk organisasi. Program audit juga harus menetapkan dan terus menunjukkan independensi dan objektivitas, untuk keseluruhan program, manajer dan eksekutif yang bertanggung jawab atas program, dan auditor yang melakukan audit.
Audit eksternal 
Audit eksternal merupakan segmen yang berbeda di pasar layanan profesional yang terdiri dari organisasi khusus yang bisnis intinya menyediakan audit dari berbagai jenis dan lebih banyak perusahaan jasa umum yang menawarkan audit sebagai salah satu di antara berbagai lini bisnis. Referensi kepada auditor eksternal juga dapat menunjukkan individu yang bekerja untuk perusahaan jasa profesional (atau dalam beberapa kasus secara mandiri). 
Dalam konteks audit peraturan, audit organisasi besar atau kompleks, atau audit dengan perhatian ruang lingkup yang signifikan sering berfokus pada perusahaan audit eksternal, meskipun undang-undang dan peraturan audit di banyak negara memberlakukan persyaratan pada perusahaan audit dan auditor yang bekerja untuk mereka. Organisasi yang memilih auditor eksternal biasanya mengevaluasi kandidat di tingkat perusahaan tetapi dapat menilai keterampilan, pengalaman, dan kualifikasi auditor individu ketika mencari penyedia untuk bentuk-bentuk khusus audit eksternal, termasuk banyak jenis audit TI. Perbedaan antara individu dan organisasi yang menyediakan layanan audit eksternal juga relevan ketika membahas sertifikasi auditor, kualifikasi, atau prasyarat lain yang memungkinkan auditor eksternal melakukan audit atas nama organisasi klien.

2.3 Jenis – jenis Kontrol dan Audit Teknologi Sistem Informasi
Secara umum, fungsi dari kontrol adalah untuk menekan kerugian yang mungkin timbul akibat kejadian yang tidak diharapkan yang mungkin terjadi pada sebuah sistem. Tugas auditor adalah untuk menetapkan apakah kontrol sudah berjalan sesuai dengan yang diharapkan untuk mencegah terjadinya situasi yang tidak diharapkan. Auditor harus dapat memastikan bahwa setidaknya ada satu buah kontrol yang dapat menangani resiko bila resiko tersebut benar-benar terjadi.
Kontrol digunakan untuk mencegah, mendeteksi dan memperbaiki situasi yang tidak teratur, sebagai contoh :
1. Preventive Control
Instruksi yang diletakkan pada dokumen untuk mencegah kesalahan pemasukan data. 
2. Detective Control
Control yang diletakkan pada program yang berfungsi mendeteksi kesalahan pemasukan data. 
3. Corrective Control
Program yang dibuat khusus untuk memperbaiki kesalahan pada data yang mungkin timbul akibat gangguan pada jaringan, komputer ataupun kesalahan user.



Selain contoh di atas, ada jenis kontrol internal dan organisasi sebagai berikut:
Kontrol Internal
Apa itu kontrol internal? Jika Anda tidak tahu jawaban untuk pertanyaan ini, Anda akan merasa sulit untuk menyelesaikan misi departemen. Kami tidak akan menghabiskan terlalu banyak waktu untuk hal ini, karena takut mengubah buku ini menjadi kursus Auditing 101 yang disebutkan sebelumnya, tetapi topik tersebut memang memerlukan beberapa paragraf. Kontrol internal, dinyatakan dalam istilah paling sederhana, adalah mekanisme yang memastikan berfungsinya proses dalam perusahaan. Setiap sistem dan proses dalam suatu perusahaan ada untuk beberapa tujuan bisnis tertentu. Auditor harus mencari keberadaan risiko untuk tujuan-tujuan tersebut dan kemudian memastikan bahwa pengendalian internal tersedia untuk mengurangi risiko-risiko tersebut.
Kontrol organisasi
Kontrol organisasi dipilih dan diterapkan sekali dengan penerapan di seluruh perusahaan. Kontrol tingkat entitas penting sebagai area fokus untuk audit internal dan eksternal karena mereka memberikan dasar untuk bagaimana organisasi mengelola fungsi yang didukung kontrol. Kontrol tingkat entitas juga dimasukkan dengan merujuk ke banyak jenis audit yang dilakukan pada tingkat organisasi lainnya, seperti unit bisnis, program dan proyek, dan aset teknologi semuanya memanfaatkan berbagai jenis kontrol tingkat entitas. Tata kelola yang menonjol dan kerangka kerja manajemen risiko menekankan pentingnya membangun kontrol tingkat entitas dan tampaknya menganggap bahwa hampir semua organisasi mengakui nilai penerapan jenis kontrol ini. Asumsi semacam itu sebagian berasal dari sebagian besar perusahaan atau organisasi yang diperdagangkan secara publik di industri yang diatur atau lingkungan operasi yang membentuk audiensi yang dituju sebagai pedoman tata kelola, manajemen risiko, kepatuhan, dan audit. Sebagian besar organisasi menerapkan beberapa kontrol di tingkat perusahaan, tetapi jenis kontrol tingkat entitas yang mereka implementasikan bervariasi secara substansial di antara organisasi yang berbeda, bahkan di dalam sektor atau industri yang sama.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
            Audit adalah proses mengumpulkan dan mengevaluasi fakta untuk memutuskan apakah sistem komputer yang merupakan aset bagi perusahaan terlindungi, integritas data terpelihara, sesuai dengan tujuan organisasi untuk mencapai efektifitas, dan efisiensi dalam penggunaan sumber daya.
            Tanpa adanya audit teknologi sistem informasi dalam organisasi atau perusahaan, maka dalam menjalankan kegiatan yang berhubungan dengan teknologi sistem informasi akan menghalami hambatan atau gagal dikarenakan tidak ada kontrol yang menangani jalannya kegiatan teknologi sistem informasi.

DAFTAR PUSTAKA


Friday, 15 November 2019

Pengertian Audit Sistem Informasi

Pengertian Audit Sistem Informasi

Audit Sistem Informasi (Information System Audit) atau EDP Audit (Electronic Data Processing Audit) atau computer audit  adalah proses pengumpulan data dan pengevaluasian bukti-bukti untuk menentukan apakah suatu sistem aplikasi komputerisasi telah menetapkan dan menerapkan sistem pengendalian internal yang memadai, semua aktiva dilindungi dengan baik atau disalahgunakan serta terjaminnya integritas data, keandalan serta efektifitas dan efesiensi penyelenggaraan sistem informasi berbasis komputer (Ron Weber 1999:10).

Tujuan Audit Sistem Informasi
Tujuan audit sistem informasi menurut Ron Weber (1999:11-13) secara garis besar terbagi menjadi empat tahap, yaitu:

a. Pengamanan Aset
Aset informasi suatu perusahaan seperti perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), sumber daya manusia, file data harus dijaga oleh suatu sistem pengendalian intern yang baik agar tidak terjadi penyalahgunaan aset perusahaan. Dengan demikian sistem pengamanan aset merupakan suatu hal yang sangat penting yang harus dipenuhi oleh perusahaan.

b. Menjaga integritas data
Integritas data (data integrity) adalah salah satu konsep dasar sistem inforamasi. Data memeiliki atribut-atribut tertentu seperti: kelengkapan, keberanaran, dan keakuratan. Jika integritas data tidak terpalihara, maka suatu perusahaan tidak akan lagi memilki hasil atau laporan yang beanr bahkan perusahaan dapat menderita kerugian.

c. Efektifitas Sistem
Efektifitas sistem informasi perusahaan melikiki peranan pentigndalam proses pemgambilan keputusan. Suatu sistem informasi dapat dikatakan efektif bila sistem informasi tersebut telah sesuai dengan kebutuhan user.

d. Efisiensi Sistem
Efisiensi menjadi hal yang sangat penting ketika suatu komputer tidak lagi memilki kapasitas yang memadai atau harus mengevaluasi apakah efisiensi sistem masih memadai atau harus menambah sumber daya, karena suatu sistem dapat dikatakan efisien jika sistem informasi dapat memenuhi kebutuhan user dengan sumber daya informasi yang minimal.

e. Ekonomis
Ekonomis mencerminkan kalkulasi untuk rugi ekonomi (cost/benefit) yang lebih bersifat kuantifikasi nilai moneter (uang). Efisiensi berarti sumber daya minimum untuk mencapai hasil maksimal. Sedangkan ekonomis lebih bersifat pertimbangan ekonomi.

sumber:
https://www.kajianpustaka.com/2014/02/audit-sistem-informasi.html

Tiga aspek kata kunci pada kontrol sistem beserta langkah perencanaan audit

Tiga aspek kata kunci pada kontrol sistem

Pengendalian/kontrol (control) adalah sebuah sistem yang digunakan untuk mencegah (prevents), mendeteksi (detects), atau mengkoreksi kebenaran (keabsahan) suatu peristiwa / kegiatan sesuai dengan aturan / hukum.

Tiga aspek kata kunci pada kontrol sistem yaitu:

1. Pengendalian sebuah sistem
Dengan kata lain, terdiri dari sekumpulan komponen yang saling berelasi yang berfungsi secara bersama-sama untuk menyelesaikan suatu maksud atau tujuan.

2. Keabsahan / kebenaran dari suatu kegiatan
Keabsahan kegiatan dapat muncul jika tidak ada otorisasi (unauthorized), tidak akurat (inaccurate), tidak lengkap (incomplete), redundansi (redundant), tidak efektif
(ineffective) atau tidak efisien (inefficient) pemasukan data kedalam sistem.

3. Pemeriksaan digunakan untuk mencegah (prevent), mendeteksi (detect), atau mengoreksi (correct) kejadian / peristiwa yang tidak sesuai dengan aturan / hukum
(unlawful events).


Langkah perencanaan audit:

1. Memperoleh Pemahaman Tentang Bisnis dan Industri Klien
Agar dapat membuat perencanaan audit secara memadai, auditor harus memiliki pengetahuan tentang bisnis kliennya agar memahami kejadian, transaksi, dan praktik yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap laporan keuangan.
Penting bagi auditor untuk memahami aspek-aspek kunci dari siklus bisnis klien. Siklus ini dimulai ketika satu organisasi membawa tujuan dan sumberdayanya secara bersamaan. Siklus bisnis terus berjalan seperti suatu organisasi memahami kekuatan pasar dam peraturan yang mendefinisikan lingkungan kompetitif, dan membuat keputusan penting yang berkenaan dengan penyebaran sumber daya-sumber daya ke dalam proses inti untuk memperoleh konsumen serta mendistribusikan produk dan jasanya. Proses-proses inti ini harus menghasilkan profitabilitas, arus kas operasi, dan bergantung pada tujuan organisasi, pertumbuhan dan peningkatan nilai. Jasa bernilai tambah penting yang ditawarkan akuntan publik berkaitan dengan penilaian bisnis dan menjelaskan bagaimana arus kas dan pengembangan sumberdaya yang berkaitan dengan nilai organisasi.
Entitas kemudian harus mengelola arus kasnya untuk mengembangkan sumberdaya-sumberdaya serta mempertahankan likuiditas dan solvabilitas. Pada tahap ini suatu entitas harus menentukan sumberdaya tambahan yang diperlukan, bagaimana sumber daya tersebut akan didanai, apakah entitas memerlukan tambahan modal dari luar, dan apakah entitas memiliki dana yang cukup untuk membayar kembali pinjaman. Siklus bisnis berlanjut sejalan dengan organisasi mempertimbangkan kembali tujuannya dan penyebaran sumberdaya-sumberdaya pentingnya.

Terdapat beberapa aspek kritis dari siklus bisnis yang penting bagi auditor untuk dipahami. Hal tersebut termasuk :
a. Manajemen, tujuan manajemen, dan sumberdaya-sumberdaya organisasi.
b. Produk dan jasa, pasar, pelanggan, dan persaingan entitas.
c. Proses inti dan siklus operasional entitas.
d. Keputusan investasi dan pembiayaan entitas.

Prosedur untuk memahami bisnis dan industri :

a. me-review data industri
b. me-review informasi bisnis kecil
c. mengadakan tinjauan operasi klien
d. mengajukan pertanyaan kepada komite audit
e. mengajukan pertanyaan kepada manajemen
f. me-review kertas kerja tahun lalu
g. menentukan keberadaan pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa

2. Melaksanakan prosedur analitik.
Prosedur analitis (pengujian analitis) di definisikan dalam PSA 22 (SA329) sebagai evaluasi atas informasi keuangan yang di lakukan dengan mempelajari hubungan logis antara data keuangan dan non keuangan.
Prosedur analitis digunakan dalam audit untuk tujuan berikut :
a. Dalam tahap perencanaan audit, untuk membantu auditor dalam merencanakan sifat, waktu dan luasnya prosedur audit lainnya
b. Dalam tahap pengujian, sebagai pengujian substantif untuk memperoleh bukti mengenai asersi tertentu yang berhubungan dengan saldo akun atau transaksi.
c. Pada penyelesaian audit, dalam melakukan review akhir terhadap kelayakan keseluruhan laporan keuangan yang diaudit.

Langkah-langkah yang terlibat dalam melaksanakan prosedur analitis yaitu:

a. Mengidentifikasi perhitungan atau perbandingan yang akan dilakukan
Jenis perhitungan dan perbandingan data yang digunakan adalah:

- Perbandingan data absolut
Prosedur ini membandingkan jumlah saat ini,s eperti saldo akun, dengan suatu jumlah yang diharapkan atau diprediksi.

- Laporan keuangan ukuran umum
Prosedur ini membandingkan presentasi dari total yang berhubungan yang direpresentasikan oleh komponen laporan keuangan dengan jumlah yang diharapkan.

- Analisis rasio
Sejumlah rasio yang seringkali digunakan oleh manajemen atau analisis keuangan dapat dihitung dan dibandingkan dengan nilai yang diharapkan untuk rasio tersebut. Jumlah dari hasil perhitungan dapat dianalisis secara individual atau dalam kelompok yang berhubungan seperti rasio solvabilitas, efisiensi, dan profitabilitas.

- Analisis tren
Analisis tren melibatkan perbandingan beberapa data bagi lebih dari dua periode akuntansi untuk mengidentifikasi perubahan penting yang mungkin tidak nyata dari perbandingan yang terbatas pada periode saat ini dan periode masa lalu

- Hubungan informasi keuangan dengan informasi nonkeuangan
Data nonkeuangan seperti jumlah karyawan, luas ruang penjualan, dan volume barang yang diproduksi mungkin berguna dalam memperkirakan saldo akun yang berhubungan seperti beban gaji, penjualan, dan harga pokok produksi.

b. Mengembangkan ekspektasi
Dasar pemikiran yang mendasari prosedur analitis dalam audit adalah hubungan antardata dapat diharapkan untuk terus berlanjut dalam ketidakberadaan kondisi yang diketahui atau sebaliknya. Selain itu, penting bagi auditor untuk mengembangkan secara independen ekspektasi sebelum melaksanakan perhitungan mengenai data klien sehingga perbandingan akhir tidak bias, dasar pemikiran ini digunakan dalam mengembangkan ekspektasi dari berbagai sumber.

- Informasi keuangan klien untuk periode masa lalu yang daoat dibandingan memberikan pertimbangan bagi perubahan yang diketahui. Secara sederhana diasumsikan bahwa suatu saldo akun periode berjalan, persentase ukuran umum, rasio atau hubungan antara data keuangan dan data nonkeuangan harus memperkirakan jumlah periode masa lalu.

- Hasil yang diantisipasi berdasarkan anggaran formal dan peramalan. Pendekatan ini termasuk anggaran yang disiapkan klien, dan peramalan yang disiapkan oleh auditor.

- Hubungan antara elemen-elemen informasi keuangan dalam suatu periode. Hal ini termasuk mempertimbangkan bagaimana perubahan dalam satu aun diharapkan akan mempengaruhi akun lainnya.

- Data industri. Persentase ukuran umum, rasio, dan data tren perusahaan dalam suatu industri tersedia untuk tujuan perbandingan dari sumber-sumber.

c. Melaksanakan perhitungan atau perbandingan.
Langkah ini termasuk mengakumulasi data yang akan digunakan dalam menghitung jumlah absolut dan persentase perbedaan antara jumlah saat ini dan tahun lal, menghitung data ukuran umum serta data rasio, dan lain sebagainya. Selain itu, langkah ini juga termasuk pengumpulan data industri untuk tujuan perbandingan.

d. Menganalisis data dan mengidentifikasi perbedaan signifikan.
Analisis mengenai data rasio yang tepat menyediakan penilaian berkelanjutan atas solvabilitas, efisiensi dan profitabilitas relatig terhada tahun lalu dan terhadap perusahaan lain dalam industri yang sama. Secara serupa, perbandingan data entitas tahun berjalan dan tahun lalu akan membantu auditor untuk memahami dampak kejadian atau keputusan penting terhadap laporan keuangan entitas.

e. Menyelidiki perbedaan signifikan yang tidak terduga dan mengevaluasi perbedaan tersebut.
Hal ini biasanya melibatkan pertimbangan ulang metode-metode dan faktor-faktor yang digunakan dalam mengembangkan ekspektasi dan mengajukan pertanyaan kepada manajemen.

f. Menentukan dampak hasil prosedur analitik terhadap perencanaan audit.
Perbedaan signifikan yang tidak dapat dijelaskan biasanya dianggap sebagai indikasi suatu peningkatan risiko salah saji dalam akun-akun yang terlibat dalam perhitungan perbandingan. Dalam kasus ini, auditor biasanya akan merencanakan untuk melaksanakan pengujian yang ebih mendetil terhadap akun-aku tersebut. Prosedur analitis sering menyediakan auditor petunjuk mengenai apakah suatu akun lebih mungkin dinyatakan lebih saji atau kurang saji. Dengan mengarahkan perhatian auditor terhadap bidang-bidang yang memiliki risiko lebih tinggi, prosedur analitis dapat memberikan kontribusi bagi pelaksanaan audit yang lebih efektif dan efisien.

3.  Mempertimbangkan tingkat materialitas awal
a. Tingkat laporan keuangan
b. Tingkat saldo akun
Material awal perlu ditetapkan karena pendapat auditor atas kewajaran laporan keuangan diterapkan pada laporan keuangan sebagai keseluruhan.

4. Mempertimbangkan risiko bawaan
Risiko bawaan (inberent risk) suatu risiko salah saji yang melekat dalam saldo akun atau asersi tentang suatu saldo akun. Risiko pengendalian (control risk) suatu risiko tidak dapat dicegahnya salah saji material dalam suatu saldo akunatan asersi tentang suatu saldo akun oleh pengendalian intern. Risiko deteksi (detection risk) suatu risiko tidak terdeteksinya salah saji material dalam suatu saldo akun atau asersi tentang suatu saldo akun oleh prosedur audit yang dilaksanakan oleh auditor. Risiko audit suatu risiko kegagalan auditor dalam memodifikasi pendapatannya atas laporan keuangan yang secara material disajikan salah.

5. Mengembangkan strategi audit awal terhadap asersi signifikan
Tujuan akhir perencanaan dan pelaksanaan audit yang dilakukan auditor adalah untuk mengurangi risiko audit ke tingkat yang rendah, untuk mendukung pendapat apakah, dalam semua hal yang material, laporan keuangan disajikan secara wajar. Tujuan ini diwujudkan melalui pengumpulan dan evaluasi bukti tentang asersi yang terkandung dalam laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen.Karena keterkaitan antara bukti audit, materialitas, dan komponen risiko audit (risiko bawaan, risiko pengendalian, danm risiko deteksi), auditor dapat memilih strategi audit awal dalam perencanaan audit terhadap asersi individual atau golongan transaksi.

6. Memahami pengendalian intern klien
Penyajian laporan keuangan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum di in donesia mewajibkan klien untuk melaksanakan peraturan-peraturan pemerintah dan perjanjian-perjanjian legal yang lain. Jika material, informasi mengenai kewajiban legal klien, harus dijelaskan dalam laporan keuangan.

Sebelum memulai verifikasi dan analisis terhadap transaksi dan akun tertentu, auditor perlu memahami kewajiban-kewajiban legal dan perjanjian-perjanjian yang menyangkut klien. Informasi tersebut tercantum dalam dokumen-dokumen berikut ini:
1. Anggaran dasar dan anggaran rumah tangga
2. Perjanjian persekutuan (partnership agreement)
3. Notulen rapat direksi dan pemegang saham
4. Kontrak
5. Peraturan-peraturan pemerintah yang secara langsung menyangkut perusahaan klien
6. Arsip korespondensi
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html

Copyright © Cizciznet Blog | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | BTheme.net      Up ↑